Warga Hulu Banda Malalak Barat Bergotong Royong Perbaiki Bendungan, Belum Ada Bantuan Pemerintah Pasca Galodo
2026-09-11
AGAM — Bencana banjir bandang atau galodo yang melanda Sumatera Barat belum lama ini, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Hulu Banda, Nagari Malalak Barat, Kabupaten Agam. Khususnya bagi para petani, kehancuran bendungan irigasi Batang Paman menjadi persoalan utama yang hingga kini belum menemukan solusi memadai.
Sejak bendungan tersebut hancur diterjang arus deras banjir, aliran air menuju hamparan sawah warga terputus total. Tanaman mulai layu, lahan pertanian perlahan mengering, dan harapan panen terancam pupus. Meski situasi sangat sulit, semangat gotong royong warga tidak pernah padam. Tanpa menunggu lama, mereka turun langsung ke lokasi untuk melakukan perbaikan seadanya hanya bermodalkan tenaga sendiri dan alat sederhana yang dimiliki.
"Semenjak galodo melanda Sumatera Barat sampai kini, belum ada perhatian yang layak dari pemerintah," ujar salah seorang warga dengan nada kecewa. Berkali-kali janji bantuan disampaikan oleh jajaran pemerintah, namun hingga saat ini realisasinya belum terlihat nyata di tengah masyarakat. Warga merasa seakan diabaikan, padahal kebutuhan air untuk pertanian sangat mendesak.
Kendati berat, semangat kebersamaan warga tetap tegak. Pagi hingga sore, pria dan wanita bergotong royong mengangkut batu, menyusun anyaman bambu, dan memperkuat tanggul yang tersisa. Mereka sadar, jika tidak diperbaiki segera, musim tanam berikutnya akan terlewat begitu saja. Namun upaya mandiri ini tentu memiliki keterbatasan. Tanpa bantuan material, dana, dan tenaga yang memadai, hasil perbaikan sementara ini belum tentu kuat menahan arus air saat musim hujan tiba.
Dari informasi yang diterima, lokasi bendungan ini sebenarnya sudah masuk dalam daftar usulan perbaikan. Namun kendala dana menjadi alasan utama mengapa pekerjaan belum bisa dilaksanakan secara menyeluruh. "Lokasi bendungan itu sudah diusulkan, tapi dananya belum cukup dari pemerintah daerah. Sepertinya Pemerintah Kabupaten Agam belum memprioritaskan perbaikan irigasi ini pasca bencana," ungkap warga. Padahal perhatian besar telah disampaikan pemerintah pusat, di mana Presiden Jokowi sendiri telah menegaskan pemulihan pasca bencana di Sumatera Barat menjadi prioritas utama, termasuk di sektor pertanian.
Para petani di Hulu Banda tak meminta berlebih. Mereka hanya ingin air kembali mengalir ke sawah-sawah mereka. "Air adalah nyawa petani. Tanpa air, kami tak bisa menanam, tak bisa memanen, dan keluarga kami tak bisa makan," tegas warga. Harapan besar kini tertuju kepada Pemerintah Kabupaten Agam maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, agar segera turun meninjau dan merealisasikan bantuan yang telah dijanjikan.
Warga juga menyampaikan harapan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat agar tidak membiarkan suara mereka teredam. Jangan sampai janji-janji tersebut hanya menjadi kata-kata manis tanpa bukti nyata di lapangan. Warga menuntut keadilan dan kepedulian yang setara, bukan sekadar janji yang terus ditunda-tunda realisasinya.
Perjuangan warga Malalak Barat adalah cerminan ketangguhan masyarakat pedesaan yang tidak ingin menyerah pada keadaan. Namun gotong royong saja tidak cukup untuk membangun kembali bendungan yang kokoh. Pemerintah hadirlah di tengah kami, bukan hanya saat kampanye, tetapi tepat saat kami benar-benar membutuhkan. Jangan biarkan sawah kami mati kekeringan hanya karena menunggu janji yang tak kunjung datang.
Semoga berita ini sampai ke meja para pemangku kepentingan, dan pertanian di Malalak Barat kembali hidup, lestari, dan sejahtera.
Anas Pilihan

Posting Komentar
0 Komentar