Sertijab 9 Wali Nagari di Kecamatan VII Koto, Ais Syuria Kembali Dipercaya Memimpin Lurah Ampalu
VII Koto, Padang Pariaman — 28 Agustus 2026 Serah terima jabatan (Sertijab) sembilan Wali Nagari se-Kecamatan VII Koto digelar di Kantor Camat VII Koto. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Camat VII Koto, Zulfikar, S.IP., MM., sebagai bagian dari kesinambungan roda pemerintahan nagari setelah para wali nagari dilantik oleh Bupati Padang Pariaman pada 26 Agustus 2026 di IKK Parit Malintang.
Sertijab bukan sekadar seremoni pergantian jabatan. Di balik prosesi tersebut terdapat amanah besar yang harus dijawab dengan kerja nyata. Jabatan wali nagari bukanlah sekadar kedudukan, melainkan kepercayaan masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan melalui pelayanan, keteladanan, keterbukaan, dan pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Salah satu sosok yang kembali mendapat kepercayaan masyarakat adalah Ais Syuria, Wali Nagari Lurah Ampalu, yang dipercaya melanjutkan kepemimpinan untuk periode 2026–2034.
Pada Pilwana serentak 27 Juni 2026, sejumlah wali nagari petahana kembali mengikuti kontestasi untuk mendapatkan mandat masyarakat. Pilwana merupakan bagian dari demokrasi di tingkat nagari, tempat masyarakat menentukan siapa yang dianggap mampu membawa nagari menuju arah yang lebih baik.
Namun, setelah pesta demokrasi selesai, tugas seorang pemimpin justru semakin berat.
Kemenangan bukanlah akhir perjuangan. Kemenangan adalah awal dari pembuktian.
Bagi Ais Syuria, kepercayaan tersebut merupakan amanah besar. Masyarakat tentu berharap kepemimpinan ke depan tidak hanya melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun, tetapi juga berani menyelesaikan pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab pemerintahan nagari.
Perjuangan Pemekaran Sejak 2019
Perjalanan Ais Syuria tidak dapat dipisahkan dari perjuangan pemekaran Nagari Lurah Ampalu yang telah berlangsung sejak 2019.
Perjuangan tersebut bukan milik satu orang. Di dalamnya terdapat kebersamaan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, pemuda-pemudi, tokoh masyarakat, perantau, serta seluruh elemen masyarakat Lurah Ampalu.
Melalui komunikasi, kebersamaan, dan perjuangan panjang, akhirnya lahir Nagari Persiapan Lurah Ampalu Timur.
Lahirnya nagari persiapan menjadi tonggak penting bagi masyarakat. Pemekaran diharapkan mampu mendekatkan pelayanan pemerintahan, membuka ruang pemerataan pembangunan, sekaligus memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan wilayahnya.
Tetapi pemekaran bukan garis akhir.
Pemekaran adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Kini tantangannya adalah bagaimana memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya. Pelayanan harus semakin dekat, pembangunan semakin merata, administrasi semakin tertib, dan pemerintahan harus semakin terbuka serta dapat dipercaya.
Amanah 2026–2034, Masih Ada Pekerjaan yang Harus Dituntaskan
Memasuki periode kepemimpinan 2026–2034, Ais Syuria diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menyelesaikan persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah.
Salah satunya adalah proses sertifikasi tanah Kantor Wali Nagari Lurah Ampalu yang diharapkan dapat dituntaskan dalam waktu secepatnya melalui koordinasi dan prosedur sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepastian administrasi aset pemerintahan merupakan bagian penting dari tata kelola nagari. Tanah dan bangunan kantor wali nagari bukan sekadar aset fisik, tetapi merupakan bagian dari kepentingan masyarakat yang harus dijaga, ditata, dan dipertanggungjawabkan.
Karena itu, penyelesaian persoalan tersebut harus menjadi bagian dari komitmen pembenahan pemerintahan Nagari Lurah Ampalu ke depan.
Pemimpin yang Dicintai Tidak Hanya Hadir Saat Dibutuhkan Suara
Kepercayaan masyarakat adalah modal besar bagi seorang pemimpin. Tetapi kepercayaan juga dapat menjadi beban moral apabila tidak dijawab dengan pengabdian.
Pemimpin yang dicintai bukan pemimpin yang hanya hadir ketika membutuhkan dukungan. Pemimpin yang dicintai adalah pemimpin yang tetap hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Mau mendengar sebelum mengambil keputusan.
Mau turun melihat keadaan sebelum membuat kebijakan.
Mau menerima kritik tanpa merasa terancam.
Mau mengakui kekurangan dan memperbaikinya.
Dan yang paling penting, mampu merangkul seluruh masyarakat tanpa melihat siapa yang memilih dan siapa yang tidak memilihnya.
Sebab setelah Pilwana selesai, wali nagari bukan lagi milik kelompok tertentu. Wali nagari adalah pemimpin seluruh masyarakat.
Perbedaan Pilihan Berakhir, Persaudaraan Harus Tetap Hidup
Momentum Sertijab hendaknya menjadi titik balik bagi seluruh masyarakat Lurah Ampalu.
Perbedaan pilihan dalam Pilwana adalah bagian dari demokrasi. Setiap masyarakat memiliki hak menentukan pilihan. Ada yang berbeda pilihan, itu adalah hal yang wajar.
Tetapi ketika proses demokrasi telah selesai, jangan biarkan perbedaan pilihan menjadi tembok yang memisahkan persaudaraan.
Tidak ada lagi yang menang dan tidak ada lagi yang kalah.
Yang ada adalah satu masyarakat.
Satu nagari.
Satu tujuan.
Membangun Lurah Ampalu.
Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat kembali merapatkan barisan.
Niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, pemuda-pemudi, kaum perempuan, tokoh masyarakat, perantau, perangkat nagari, serta seluruh masyarakat harus kembali berjalan bersama.
Kritik tetap dibutuhkan.
Perbedaan pendapat tetap harus dihargai.
Kontrol sosial tetap harus dijaga.
Tetapi semuanya harus diarahkan untuk memperbaiki, bukan untuk memecah.
Pilwana boleh berbeda pilihan, tetapi Lurah Ampalu adalah rumah kita bersama.
Wali Nagari Harus Menjadi Teladan dan Panutan
Seorang wali nagari tidak hanya dituntut mampu menjalankan roda pemerintahan. Lebih dari itu, seorang wali nagari harus mampu menjadi teladan dan panutan.
Keteladanan terlihat dari kejujuran, keadilan, keterbukaan, kedisiplinan, kesederhanaan, keberanian mengambil keputusan, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kebijakan.
Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang takut terhadap kritik.
Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mendengar kritik, mengambil pelajaran, lalu memperbaiki kekurangan.
Sebab jabatan memiliki batas waktu.
Tetapi kebaikan, keteladanan, dan pengabdian seorang pemimpin akan selalu dikenang masyarakat.
Karena itu, Ais Syuria diharapkan mampu menjadi pemimpin yang bukan hanya dipercaya melalui proses demokrasi, tetapi juga dicintai karena pengabdian dan dihormati karena keteladanannya.
Kolaborasi Adalah Kunci Kemajuan
Kemajuan Lurah Ampalu tidak mungkin dibebankan kepada wali nagari seorang diri.
Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintahan nagari, pemerintah kecamatan, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, pemuda, tokoh masyarakat, perantau, serta seluruh masyarakat.
Sertijab sembilan Wali Nagari di Kecamatan VII Koto yang dipimpin Camat VII Koto, Zulfikar, S.IP., MM., menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam membangun nagari.
Mari tinggalkan sekat-sekat politik yang lahir selama Pilwana.
Mari bangun kembali kepercayaan.
Mari satukan persepsi.
Mari satukan langkah.
Satu kebersamaan, satu tujuan, untuk Lurah Ampalu yang lebih maju, sejahtera, transparan, kompak, dan bermartabat.
Selamat Mengemban Amanah
Selamat dan sukses kepada Ais Syuria, Wali Nagari Lurah Ampalu, atas kepercayaan masyarakat untuk kembali mengemban amanah periode 2026–2034.
Semoga mampu melanjutkan perjuangan pemekaran yang telah dibangun sejak 2019, menjaga apa yang telah dicapai, menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda, termasuk proses sertifikasi tanah Kantor Wali Nagari, serta menghadirkan pemerintahan yang semakin dekat dan bermanfaat bagi masyarakat.
Jadilah pemimpin yang dicintai bukan karena jabatan, tetapi karena pengabdian.
Jadilah pemimpin yang dihormati bukan karena kekuasaan, tetapi karena keteladanan.
Jadilah pemimpin yang diharapkan bukan karena banyaknya janji, tetapi karena nyata dalam bekerja.
Dan yang paling penting, jadilah pemimpin yang mampu menyatukan masyarakat setelah perbedaan dalam Pilwana berakhir.
Karena pada akhirnya, Lurah Ampalu bukan milik seorang wali nagari.
Lurah Ampalu adalah milik seluruh masyarakat.
Rumah bersama yang harus dijaga, dibangun, dan dimajukan bersama.
Rapatkan barisan.
Satukan persepsi.
Satukan langkah.
Perkuat persaudaraan.
Bersama membangun Lurah Ampalu yang lebih baik.
Selamat menjalankan amanah, Ais Syuria.
Semoga periode 2026–2034 menjadi perjalanan pengabdian yang menghadirkan semakin banyak kebaikan, kemajuan, dan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Nagari Lurah Ampalu.
(FDJ/DS )

Posting Komentar
0 Komentar