Jasa Marga
ist/ ilustrasi jalan tol

cakranews.com-Pengguna jalan tol seharusnya mendapat insentif tarif tol. Karena mereka dipaksa menggunakan kartu elektronik untuk membayar transaksi di pintu tol.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangannya di Jakarta, kemarin malam mengatakan insentif tersebut bisa berupa pengguna e-toll diberikan diskon terhadap tarif tolnya karena telah membantu program pemerintah.

Preseden semacam ini pernah dilakukan oleh pemerintah pada Lebaran kemarin bahwa pemudik yang menggunakan e-toll diberikan diskon 25 persen.

Selain itu, pihaknya meminta agar pengelola tol meningkatkan kualitas mesin pembaca e-toll karena pengamatan YLKI transaksi e-toll sering terkendala oleh faktor konsumen (yang belum terbiasa) dan juga respon yang lambat dari mesin pembaca itu sehingga transaksi lebih lama. Ketiga, pihaknya juga mendesak agar pengelola jalan tol memperbanyak akses isi ulang, terutama di area sekitar pintu masuk jalan tol dan atau di tempat istirahat.

Oleh karena itu, kata dia, meski Kementerian PUPR dan pengelola jalan tol mengklaim bahwa e-toll adalah instrumen untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen pengguna jasa tol, tetapi penerapan kebijakan ini dinilai lebih banyak menguntungkan pengelola jalan tol daripada menguntungkan konsumen.

Hal itu bisa dilihat dari beberapa catatan antara lain, pertama, pengelola tol tidak lagi pusing menyiapkan uang recehan untuk kembalian pada konsumen, yang jumlahnya puluhan miliar per harinya. Hampir semua konsumen memerlukan uang kembalian saat membayar tarif tol. Kedua, penggunaan e-toll juga menguntungkan Bank Indonesia karena biaya cetak uang menjadi turun. Apalagi antara nilai uang dengan biaya produksi pembuatan uang lebih besar biaya produksinya, khususnya untuk mata uang pecahan kecil.

Menurut Tulus, dengan sejumlah argumentasi ini, wajar jika pengguna e-toll dapat insentif.

(@baronpskd)