Stephen McGown
Stephen McGown, warga Afrika Selatan disandera Al Qaeda di Mali selama hampir enam tahun.

cakranews.com, Johannesburg - Stephen McGown, warga Afrika Selatan disandera Al Qaeda di Mali selama hampir enam tahun. Ia mengaku diperlakukan dengan baik namun putus asa untuk dibebaskan bahkan hingga ibunya meninggal.

McGown (42) membagi kisahnya, Kamis (10/8/2017) atau 10 hari setelah dibebaskan. Mcgown mengaku telah masuk Islam saat menjalani penyanderaan di gurun Sahara dan menambahkan bahwa dia bertekad untuk bersikap positif setelah cobaan ini. Ia mengaku diperlakukan dengan baik namun putus asa untuk dibebaskan bahkan hingga ibunya meninggal.

McGown, dengan jenggot dan rambut panjang, mengatakan bahwa dia diperlakukan dengan lebih baik setelah masuk Islam. Ia diberi pakaian dan makanan yang lebih baik.

Sebelum ini saya adalah seorang Kristen. Saya masuk (Islam) atas kemauan sendiri. Saya melihat banyak hal baik dalam Islam. Ini membutuhkan karakter yang sangat bagus dan kedisiplinan,” ujarnya.

McGown menambahkan para penculiknya menganggap Presiden AS Donald Trump akan mendorong perlawanan yang lebih sengit dari dunia Islam.

Ia mengaku buta atas peristiwa dunia dalam enam tahun terakhir, karena akses berita sangat dibatasi dan tak ada buku dalam bahasa Inggris.

McGown yang didampingi istrinya Catherine, berbincang selama satu jam kepada wartawan. Dia mengaku tidak tahu apakah uang tebusan dibayar, dan menceritakan bagaimana dia kadang-kadang ditahan dengan borgol dan rantai di malam hari dengan dua sandera lainnya.

Ia menambahkan, baru-baru ini menderita demam berat, sakit kepala dan meningitis.

Saya berusaha untuk melihat yang terbaik dalam situasi yang buruk. Saya tak mau marah dan menjadi beban bagi keluarga saya. Kadang Anda menderita dan Anda ingin melawan, tapi saya tidak ingin menjadi berantakan. Saya ingin pulang sebagai orang yang lebih baik,” ujar McGown yang terlihat sehat dan sering mengumbar senyum.

Saya tidak ingin menyimpan dendam, akan memaafkan dan akan melanjutkan hidup saya,” imbuhnya.

McGown membangun pondok rumput sederhana untuk bertahan dalam udara dingin di gurun saat malam hari. Ia hanya diberi satu selimut, dan mengaku sangat mencemaskan hidupnya dalam tiga bulan pertama setelah disandera pada 2011.

McGown diculik di sebuah hotel di kota bersejarah, Timbuktu di utara Mali bersama petenis Swedia Johan Gustafsson dan pemain Belanda Sjaak Rijke pada November 2011. Afiliasi al-Qaeda Afrika Utara al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) mengaku bertanggung jawab atas penculikan ini.

Rijke dibebaskan pada bulan April 2015 oleh pasukan khusus Prancis. Sedangkan Guftasson bebas pada Juni lalu.

Pemerintah Afrika Selatan menyatakan tak ada uang tebusan yang dibayarkan untuk pembebasan McGown. Namun, Imtiaz Sooliman, kepala badan amal Gift of the Givers yang membantu membebaskan McGown, mengatakan bahwa para penculik awalnya menuntut 10 juta euro untuk masing-masing sandera.

Sooliman mengatakan bahwa dia tidak terlibat dalam pembayaran tebusan dan membantah berita yanng menyebutkan ada 5,3 juta dollar Australia yang dibayarkan untuk pembebasan ini.

Gustafsson yang dibebaskan pada bulan Juni, berharap pemerintahnya mengungkapkan apa yang telah dilakukan untuk pembebasannya.

Secara pribadi, saya pikir (tebusan) itu salah. Ini menempatkan orang lain dalam bahaya. Mereka dapat menggunakan uang itu di mesin perang mereka,” katanya. (news.com.au)

(*/Ris)